Pemikiran Tokoh Asghar Ali Engineer

Pemikiran Tokoh Asghar Ali Engineer

(Dalam Buku “Pembebasan Perempuan”)

MAKALAH

Disusun guna untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah: Islam Kesetaraan Gander

Dosen Pengampu: Dr.Hj. Ummul Baroroh M.Ag

logo-3d-uin-walisongo

Disusun Oleh:

   Enggar Ervanto Mertias          (1401026002)

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2016

  1. Pendahuluan

Asghar Ali Engineer adalah seorang penulis yang sangat terkenal dengan berbagai karya – karya yang telah beliau dedikasikan untuk dunia pendidikan. Salah satu karya beliau yang menjadi rujukan dalam makalah ini adalah sebuah buku yang berjudul “Pembebasan Perempuan” dimana semua masalah yang terkait dengan perempuan mulai dari ketidakadilan yang dialami perempuan hingga upa – upaya untuk membebaskan perempuan.

Dari sekian banyak pembahasan dalam buku ini, didalam malakah ini akan dibahas dua persoalan saja yaitu mengenai pendapat dan pemikiran beliau terkait dengan persoalan memakai cadar untuk perempuan dan mengenai pendapat beliau tentang perempuan itu adalah “Setengah Saksi”.

Untuk menjawab masalah itu dalam makalah ini telah dijelaskan tentang pandangan beliau terkait dengan urusan cadar, kemudian pemikiran para ulama dan ahli tafsir lainya. Pun sama halnya dengan ayat Al-Qur-an yang mengistilahkan perempuan itu sebagai “setengah saksi” bagaimanakan pendapat beliau ? dan apa jawaban para ahli tafsir serta ahli hukum islam ? semoga malakah ini dapat bermanfaat. aamiin

  1. Rumusan masalah
  2. Bagaimana pemikiran Asghar Ali Engineer tentang Perempuan Muslim, Cadar, dan Al-Qur’an ?
  3. Bagaimana pemikiran Asghar Ali Engineer tentang Perempuan itu “Setengah Saksi” menurut Al-Qur’an ?
  • Pembahasan
  1. Perempuan Muslim, Cadar, dan Al-Qur’an

Cadar telah menjadi isu yang kontroversial dalam islam. Sementara sebagian umat islam menganggapnya sebagai perintah Allah yang diberikan didalam kitab suci Al-Qur’an, sebagian muslim yang lain dan juga umat non-muslim, khususnya orang orang barat menganggapnya sebagai praktik yang aneh.[1]

Untuk negara – negara seperti Arab Saudi, perempuan jika pergi tanpa cadar dapat diberi hukuman yang berat. Di negara tersebut perempuan tidak diizinkan untuk pergi keluar rumah sendiri tanpa mahram yang menemani, hal ini dilakukan karena khawatir perempuan itu akan diganggu dan bahkan diperkosa. Di Iran perempuan juga harus memakai chador yakni pakaian yang panjang dan longgar untuk menutupi kepala dan bagian tubuh bagian atas atau paling tidak memakai selendang untuk menutupi kepala.

Di negara negara Islam Asia Tenggara, keadaanya sangat berbeda. Di negara negara ini perempuan tradisional telah memainkan peranan yang penting dalam sektor ekonomi. Sulit menemukan rumah tangga muslim manapun yang perempuanya tidak mencari nafkah. Dengan demikian, sejak semula mereka telah diekspos dalam kehidupan publik. Secara tradisional, tidak ada sama sekali pemakaian cadar islam dikalangan mereka. Oleh karena itu, akan terlihat bahwa pemakaian cadar lebih merupakan sebuah praktik sosio-kultural daripada murni keagamaan.[2]

Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman dalam QS. An-Nur :31 yang artinya adalah sebagai berikut : “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman bahwa mereka harus menahan pandangan dan mengendalikan nafsu seksualnya, dan janganlah mereka menampakan dandananya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan biarkanlah mereka memakai kain penutup hingga menutup dadanya, dan janganlah mereka menampakan dandananya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau saudara laki – laki mereka atau saudara perempuan mereka. Dan jangan biarkan mereka memukulkan kakinya sehingga perhiasan yang mereka sembunyikan diketahui. Dan bertobatkah kepada Allah, hai orang orang beriman, supaya kalian beruntung.[3]

Penafsir besar Al-Qur’an, Imam Fakhr ad-Din ar-Razi dalam bukunya Tafsir al-Fakhr ar-Razi (Dar al-Fikr, Libanon,1981, Vol. XXll) juga mendiskusikan ayat diatas secara detil. Beliau berpendapat bahwa perempuan yang beriman boleh mengekspos wajah dan dua telapak tangan. Dia berpendapat bahwa orang harus membedakan antara perempuan merdeka dan perempuan budak. Perempuan merdeka boleh mengekspos hanya wajah dan dua telapak tangan karena dia harus berbuat demikian untuk membeli, menjual, membayar, yakni secara fungsional dibutuhkan. Tetapi untuk budak dibolehkan mengekspos seluruh badan kecuali antara pusar dan pahanya karena dia perlu diekspos untuk dijual dipasar.

Banyak ulama berpendapat dari ayat diatas bahwa seorang perempuan diharuskan menutup cadar diwajahnya, tetapi ayat ini diturunkan dalam situasi tetentu. Perempuan di Madinah diharuskan untuk pergi keluar rumah selama waktu pagi untuk menghilangkan rasa bosan pada diri mereka. Beberapa penggoda malam biasa menunggu mereka dan mengusiknya. Ketika ditangkap, para penggoda malam akan mengatakan,”tidak mengetahui kalau perempuan itu adalah perempuan merdeka” (mereka mengira bahwa perempuan itu adalah budak perempuan. Perlu dicatat pada saat itu beberapa budak perempuan ikut terjun ke prostisusi saat malam hari sebagaimana Tuan mereka memaksa mereka melakukan itu, dan oleh karenanya banyak yang menggoda mereka. Tetapi, bagi perempuan merdeka menghadapi situai seperti itu pada waktu yang sama sangat memalukan.

Untuk itu Al-Qur’an mengharuskan perempuan beriman untuk menutup wajah mereka dengan jilbab agar mudah dikenali sebagai perempuan merdeka dan tidak akan diganggu. Salah satu maksud Al-Qur’an adalah agar perempuan tidak boleh mengundang perhatian laki laki yang tidak ada gunanya dengan menunjukan semua daya tarik dan dandanan seksualnya. Seorang perempuan harus berpakaian dengan cara yang bermartabat.

 

  1. Apakah Perempuan itu “Setengah Saksi”

Secara umum umat Islam menganggap bahwa perempuan hanyalah “Setengah Saksi” menurut Al-Qur’an, dan oleh karenanya dua saksi perempuan adalah sama dengan satu saksi laki – laki. Keyakinan ini didasarkan pada sebuah ayat dalam Al-Qur’an dan interpretasinya oleh ahli tafsir dan ahli hukum islam. Ayat tersebut terdapat dalam QS Al-Baqarah : 282 yang artinya adalah sebagai berikut.[4]

“Hai orang – orang yang beriman! Jika kamu mengadakan perjanjian satu sama lainya, dalam transaksi yang melibatkan kewajiban di masa yang akan datang dalam satu periode waktu yang telah ditentukan, hendaklah itu ditulis. Biarkanlah seorang penulis untuk mencatatnya secara tepat diantara yang mengadakan perjanjian. Jangan biarkan penulis menolak untuk menulis sebagaimana Allah swt telah mengajarkanya. Maka biarkanlah dia menulis. Biarkanlah dia yang berhutang mendiktekan secara bertanggung jawab,tetapi hendaknya dia takut kepada Allah Tuhanya, dan janganlah mengurangi sedikitpun dari apa yang dia miliki. Jika orang yang berhutang itu orangnya secara mental kurang sempurna atau lemah, dan tidak mampu dirinya sendiri untuk mencatat, biarkanlah walinya yang mendiktekan dengan jujur. Dan carilah dua orang saksi, dari orang laki – laki diantaramu, dan jika tidak ada dua orang laki – laki maka seorang laki – laki dan dua orang perempuan yang kamu pilih jadi saksi – saksi sehingga jika salah seorang diantara mereka lupa, yang lain dapat mengingatkanya.

Sekarang ini dengan bertambahnya kesadaran hak – hak perempuan, akan sulit menerima posisi ini. Lalu, apakah yang menjadi perintah kitab suci yang sebenarnya? Apakah ini keinginan Allah untuk menyamakan satu laki – laki dengan dua perempuan dalam hal menjadi saksi ? Ataukah ini adalah interpretasi ayat diatas oleh ahli hukum Islam laki – laki ? Tentu saja, ada banyak pendapat yang berbeda. Semua ahli tafsir dan hukum Islam ortodoks secara tegas menyatakan bahwa itu adalah keinginan suci untuk memperlakukan satu orang laki – laki sama dengan dua orang perempuan selama dalam urusan menjadi saksi.[5]

Tidak hanya itu mereka juga menyatakan bahwa kesaksian yang diberika oleh dua orang perempuan hanya akan sah ketika dibarengi oleh satu orang laki – laki, tidak sebaliknya. Jika dua saksi laki – laki tidak ada maka harus diganti dengan satu laki – laki dan dua perempuan, bukan empat perempuan karena empat perempuan tidak dapat menggantikan dua orang laki – laki. Dalam kasus apapun  kehadiran satu laki – laki dan dua orang perempuan adalah suatu keharusan. Hukum ini dilaksanakan oleh banyak negara Islam.

Kita akan merujuk kepada pandangan-pandangan Fakhr ad- ‎Din ar-Razi, penafsir Al-Qw’an terkemuka. Dia telah mendiskusikan ‎secara detil tentang  ayat Al-Qur’an berkaitan dengan ‎kesaksian laki-laki clan perempuan. Dia juga ‎mendiskusikan apakah kesaksian seorang budak sah atau tidak. ‎Beberapa ahli hukum, seperti Syuraih, berpendapat bahwa ‎kesaksian budak adalah sah dan dia dapat dipanggil untuk ‎bersaksi. Tetapi, Imam Abu Hanifah dan asy-Syafi’i berpendapat ‎sebaliknya. Oleh karena itu, akan terlihat bahwa dalam pertanyaan-‎per tanyaan seperti itu, para ahli tafsir clan ahli hukum berbeda  ‎secara fundamental satu sama lainnya.‎[6]

Kemudian ar-Razi merujuk pada ayat Al-Qur’an tentang per‎ceraian yang membutuhkan dua saksi yang adil (Q.S. ath-Thalaq ‎‎[65): 2). Menarik untuk  dicatat bahwa  di sini, AI-Qur’an  tidak me‎netapkan satu  laki-laki dan  dua  perempuan, tetapi  hanya  ‎dua saksi.  Terus  hal ini juga  menunjukkan bahwa saksi  satu  ‎laki- laki dan dua perempuan bukanlah sebuah keharusan ‎universal, tetapi  hanya  dibatasi untuk transaksi keuangan.

 Ar-‎Razi menetapkan sepuluh syarat untuk seorang saksi yang ‎adil. Seseorang yang menjadi  saksi harus  orang  merdeka (yakni, bukan budak), ‎dewasa, muslim, adil, dan mempunyai pengetahuan tentang ‎masalah yang  sedang ia saksikan. Dia tidak  boleh  bersaksi  ‎untuk tujuan  mementingkan dirinya  sendiri, untuk  keluar  dari ‎situasi yang  sulit, tidak boleh dikenal sebagai  pembuat ‎kesalahan yang besar atau  mengabaikan kualitas  manusia, dan ‎tidak  boleh  ada permusuhan antara  dia dan orang  yang  ia ‎bersaksi untuknya. Nanti  akan  terlihat bahwa  tidak ada satu pun ‎dari syarat-syarat ini membatalkan seorang perempuan atau  ‎menetapkan bahwa kesaksiannya akan  menjadi setengah dari  ‎laki-Iaki. Sungguh, semua  kualitas  yang disebutkan di atas ‎dapat juga dimiliki oleh seorang perempuan.[7]

Selanjutnyaar-RazimendiskusikanbagiandariayatAl-Qur’an ‎yang  mengatakan bahwa  seruang  laki-laki  dan dua  perempuan ‎dapat bersaksi. Menurut ar-Razi, alasan kenapa  dua perempuan ‎harus  menggantikan satu  Iaki-laki  adalah karena  temperamen ‎perempuan itu dingin (bird) dan lembab, atau (seperti) uap lembab ‎‎(rutumt), dan ini adalah a)asan atas kelalaiannya. Para ahli psiko- ‎logi dan  kedokteran saat ini akan  sulit menyetujui ‎pemyataan sepet ti itu, tetapi itulah yang dipahami pada  masa ‎tersebut.

 

  1. Kesimpulan

Untuk urusan memakai cadar telah jelas disebutkan diatas bahwa cadar merupakan perintah yang diberikan Allah untuk kaum perempuan pada zaman dahulu. Tetapi kebiasaan memakai cadar sudah mejadi kebiasaan yang turun temurun di negara negara Islam. Tetapi bukan berarti cadar menjadi suatu keharusan untuk zaman modern seperti saat ini karena keadaanya sudah berbeda dengan zaman dulu.

Sedangkan untuk urusan perempuan adalah setengah saksi masih menjadi perdebatan dikalangan ulama, namun jika melihat dari berbagai sumber dapat saya ambil kesimpulan bahwa sebenarnya perempuan itu posisinya sama dengan laki – laki, hanya saja dua orang disini menurut pendapat saya adalah untuk mengingatkan yang lainya senadainya salah sayu diantara mereka lupa.

Daftar Pustaka

Ali Engineer, Asghar, 2003. Pembebasan Perempuan. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta

[1] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 83

[2] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 84 – 85

[3] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 85

[4] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 97

[5] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 98

[6] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 98

[7] Ali Engineer, Asghar. Pembebasan Perempuan. (yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2003) hlm 102 – 103

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s